Senin, 05 Maret 2012

Hasad Dalam Al-Qur'an

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Al-Qur’an adalah firman Allah yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. melalui malaikat Jibril untuk dijadikan hidayah bagi seluruh umat manusia. Dan pada dasarnya Ia menyeru manusia kepada keutamaan akhlak dan menunjukkan dimana letak kebaikan dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan. Dengan demikian dapat mengantarkan manusia pada jalan kesempurnaan insan, sehingga manusia dapat merealisasikan kebahagiaan bagi dirinya baik di dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al - Isra’ ayat 9 :[1]

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bagi mereka ada pahala yang besar.”[2]

Disamping itu, al-Qur’an juga memberi petunjuk kepada manusia untuk memikirkan tentang dirinya sendiri, karena pengetahuan manusia akan dirinya itu membantu dalam mengendalikannya hawa nafsu.

Manusia dengan akal dan fikirannya bisa membedakannya antara perbuatan yang baik dan yang buruk. Dengan demikian manusia adalah makhluk yang berpengertian dan berkesadaran, makhluk yang berkebudayaan dan berperadaban.

Kesadaran dan tingkah laku manusia, diakui berasal dari jiwa kita dalam tatanan sosial Islam jiwa manusia juga bersih dari penyakit dan dihiasi dengan akhlak yang baik menjadi dasar tegaknya masyarakat yang Islami. kita tahu, kehidupan yang aman sejahtera dan penuh cinta tidak akan terwujud apabila jiwa manusia di dalamnya dipenuhi penyakit.[3]

Salah satu penyakit hati yang ada pada manusia adalah”HASAD” yang berarti iri hati atau dengki. Sifat ini juga merupakan penyakit rohani (batin) yang dapat membahayakan jika menjangkit hati manusia. Ia akan menimbulkan bahaya (mudlarat) yang luar biasa bagi diri sendiri dan orang lain.[4]

Bahkan sifat ini dapat merusak amal-amal yang telah di lakukan manusia serta dapat menyeret manusia kepada kehinaan di akhirat, meskipun hasad itu hanya seberat biji atau benda yang paling kecil , diharamkan baginya untuk surga dan mengakibatkan seseorang masuk neraka.

Haramnya Hasad telah ditetapkan dalam al-Qur’an.yang merupakan sifat-sifat orang kafir, munafik dan lemah imannya, sifat orang yang tidak ingin berterima kasih terhadap saudaranya seagama yang telah mendapat nikmat dari Allah.[5]

Allah berfirman :

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ.....

“Sebagaimana besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu pada kekafiran setelah kamu beriman karenah dengki yang timbul dari mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenarannya.”[6]

Banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan hasad, demikian pula halnya dengan hadits Nabi, juga banyak pula terdapat penjelasan-penjelasan beliau tentang masalah dengki akan tetapi kajian ini terfokus pada penafsiran para ulama’ yang telah di paparkan dalam al-Qur’an.

Sebagaimana firman Allah yang lain dalam surat al-Hasyr ayat 7:

......وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“…apa yang diberikan Rasul kepada kamu, terimalah dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya”.[7]

Ayat yang ditulis diatas, yakni bahwasannya apa yang diperintahkan Nabi, maka wajib ditaati dan apa yang dilarang oleh-Nya wajib untuk dijauhi. Oleh karena itu apabila Nabi memberi perintah untuk melaksanakan sesuatu, maka wajib dikerjakan demikian pula sebaliknya Nabi melarang untuk melakukan suatu perbuatan maka wajib untuk menjauhi dan dihindari.

Di dalam kitab Riyald as-Shalihin karya Imam an-nawawi terdapat hadis Nabi tentang larangan dengki yang berbunyi:

عن ابى هريرة رضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطاب اوقال العشب (رياض الصالحين- الامام النواوي)

“Dari Abu hurairah r.a, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:”jauhilah dirimu dari perbuatan hasud, sebab perbuatan hasud akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar “atau beliau berkata “memakan rumput.”[8]

Manusia mempunyai kesamaan dalam hak dan kewajiban. Tidak ada perbuatan apapun diantara mereka yang menyebabkan sekelompok orang yang ditakdirkan menjadi pemimpin sedangkan yang lain menjadi budak.[9]

Orang yang hatinya dipenuhi rasa iri hati dan dadanya sesak oleh egoisme, maka selama hidupnya orang tersebut tidak akan merasa tenang hatinya. Dengki merupakan cita-cita hilangnya suatu kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepada seseorang, Maupun hilangnya kenikmatan itu dicita-citakan untuk berpindah tangan kepada orang hasad itu atau hilang begitu saja, entah kemana, yang terpenting bagi orang hasad ialah hilang lenyapnya nikmat itu.[10]

Melihat kenyataan ini, penulis menjadi tertarik untuk membahas masalah ini. Hal ini adalah sifat dari iri hati atau hasad yang merupakan salah satu penyakit hati (rohani).

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Merujuk kepada latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini mencoba mengklasifikasikan ayat-ayat al-Qur’an dalam Surat al-Baqarah: 109, Surat An-Nisa’ : 54, Surat al-Fath: 15, dan surat al-Falaq ayat 5 yang menjelaskan tentang hasad berdasarkan metode tafsir maudlu’i

C. BATASAN MASALAH

Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas dapat diketahui pokok ermasalahan atau yang akan dibahas tentang ayat – ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan hasad atau ciri-ciri sifat hasad, proses, sebab-akibat dari hasad termasuk salah satu penyakit hati yang diekspresikan dengan adanya sikap iri hati terhadap seseorang yang memperoleh kenikmatan lebih dari Allah.

D. RUMUSAN MASALAH

Setelah melihat paparan latar belakang serta batasan masalah yang tertera diatas, maka dapat ditarik suatu rumusan permasalahan yang timbul dari pembahasan ini adalah:

1. Apa pengertian hasad menurut al-Qur’an ?

2. Mengapa hasad dilarang dalam al-Qur’an ?

3. Bagaimana bahaya orang yang mempunyai sifat hasad ?

E. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian dari penelitian ini dapat diformulasikan sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan arti hasad dalam al-Qur’an.

2. Untuk mengetahui alasan dan faktor hasad sehingga dilarang dalam al-Qur’an.

3. Untuk mengetahui bahaya orang yang mempunyai sifat hasad.

F. MANFAAT PENELITIAN

Dalam penelitian ini diharapakan memiliki arti akademis yang dapat menambah informasi dan pertimbangan dalam memperkaya pemahaman ayat-ayat al-Qur’an khususnya tentang judul diatas.

Di samping itu juga dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap pengembangan ilmu tafsir al-Qur’an yang merupakan sumber dari umat Islam.

G. PENEGASAN JUDUL

Agar tidak terjadi kesalah pahaman serta untuk menetapkan judul diatas maka perlu adanya penguraian kata-kata pokok yang terkandung didalamnya sebagai berikut :

Hasad : Suatu sikap yang melahirkan rasa sakit hati apabila orang lain mendapat kenikmatan dan berusaha menghilangkan kesenangan dalam kemuliaan ini beralih kepada dirinya.[11] Hasad juga merupakan penyakit hati yang dapat membahayakan diri sendiri dan dapat mendatangkan madlarat yang berbahaya.

Perspektif : Peninjauan, tinjauan atau pandangan.[12]

Al-Qur’an : Kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat, diturunkannya (diwahyukannya) kepada Nabi Muhammad SAW dan pembacanya adalah ibadah.[13]

H. METODE PENELITIAN

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Library Risert (penelitian kepustakaan) :

Sumber Data

a. Sumber data primer,yang meliputi:

1. Tafsir al-Qur’an dan Terjemahnya, Karangan DEPAG RI.

2. Riyald as-Salikin, Karya al-Nawawi

3. Tafsir Ibnu Katsir,karangan Ibnu Katsir .

4. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, karya Sayyid Quthb

b. Sumber data skunder, yaitu meliputi:

1. Al-Hasyim, Muhammad Ali, Menjadi Muslim Ideal, Yogyakarta:Mitra Pustaka.2000

2. Al-Qorni, Uwes, 60 Penyakit Hati, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1999

3. Al-Qorni, Uwes, 60 Bahaya Lisan, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1999

4. Ayyub, Hasan, Etika Menuju Kehidupan Yang Hakiki, Bandung : Trigeda Karya,1994

5. Chodjim, Achmad, Al-Falaq (Sembuh Dari Penyakit Batin Dengan Surah Subuh), Jakarta, P.T. Serambi Ilmu Semesta, 2/004

6. Chodjim, Achmad, Membangun Surga: Bagaimana Hidup Damai Di Bumi Agar Damai Pula Di Akhirat, Jakarta, Serambi, 2004

7. HS, Fahruddin, Ensiklopedi al-Qur’an, Jakarta: PT.Rineka Cipta,1992

8. Ishom, El Saha, Sketsa al-Qur’an, PT. Listafariska Putra

9. Kauma, Fuad, 35 Karakter Munafik, Yogyakarta ; Mitra Pustaka, 1997

10. Langgulung, Teori-Teori Kesehatan Mental, 1992

11. Masy’ari, Anwar, Akhlak Al-Qur’an, Surabaya: P.T. Bina Ilmu, 1990

12. Oemar, Bakry, Akhlak Muslim, Bandung: Angkasa 1993

13. Subaiti, Musa, Akhlak Keluarga Muhammad SAW, P.T. Lentera Basritama, 1982

14. Pius A Partanto, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya, Arkola, 1994

c. Teknik analisis data

Setelah data-data diatas terkumpul lengkap yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan, maka tahap selanjutnya yang perlu dilakukan adalah tahap analisa.

Tafsir maudlu’i yaitu menghimpun dari sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan satu masalah tertentu, ayat-ayat tersebut diletakkan dibawah satu tema bahan dan selanjutnya ditafsirkan secara maudlu’i.

Metode Tafsir Maudlu’i

Secara etimologi kata maudlu’i berasal dari bahasa arab “maudhu’” yang merupakan isim maf’ul dari fi’il madhi wa dha’a yang berarti meletakkan, menjadikan, menghina dan membuat-buat. Arti maudhu’ yang dimaksud di sini ialah yang di bicarakan satu judul atau topik sehingga tafsir maudlu’i berarti menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengenai satu judul, atau topik sekitar pembicaraan tertentu dan bukan maudlu’i yang di dustakan atau di palsukan maupun di buat-buat.[14]

Sedangkan menurut istilah berbagai ulama atau sarjana memberikan definisi yang hampir sama, karena tafsir maudlu’i ini masih merupakan istilah yang baru bagi mereka. Abd. Hayy Al-Farmawi memberikan pengertian sebagai berikut:” menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai maksud yang sama dalam arti sama-sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tertentu tersebut, kemudian penafsiran mulai memberikan keterangan dan penjelasan serta mengambil keputusan.”[15]

Secara khusus, penafsiran melakukan study tafsirnya ini dengan metode maudlu’i dimana ia meneliti ayat-ayat tersebut dari seluruh artinya, dan melakukan analisis berdasarkan ilmu yang benar yang di gunakan oleh pembahas untuk menjelaskan pokok permasalahan, sehingga ia dapat memahami permasalahan tersebut dengan mudah dan betul-betul menguasai sehingga memungkinkan baginya untuk memahami maksud yang terdalam dan dapat menolak segala kritik.

Maka jelaslah tafsir maudlu’i adalah tafsir yang menjelaskan beberapa ayat-ayat al-Qur’an yang mengenai satu judul atau topik atau sektor-sektor tertentu turunnya dengan mempertahankan urutan tertib turunnya masing-masing ayat sesuai dengan sebab-sebab turunnya yang di jelaskan dengan berbagai macam keterangan dari segala segi.

Langkah-langkah tafsir maudlu’i antara lain:

  1. Menetapkan masalah yang akan dikaji
  2. Menghimpun ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah tersebut.
  3. Menyusun sesuai dengan kronologi (masa turunnya disertai dengan asbab an-nuzul).
  4. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.
  5. Menyusun tema bahasan dalam kerangka yang sesuai, sistimatis, sempurna dan utuh.
  6. Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan.

I. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Skripsi ini terdiri dalam empat bab dan masing-masing bab dibagi menjadi beberapa sub-sub bab, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap pembahasan. Adapun sistematika pembahasannya sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis ungkapkan secara umum yang mengarah pada pokok pikiran yang didalamnya memuat, latar belakang, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian masalah, kegunaan pembahasan, penegasan judul, metode pembahasan dan sistimatika pembahasan.

BAB II : HASAD DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Dalam bab ini terdiri dari pengertian hasad secara umum dan pengertian menurut al-Qur’an, ciri – ciri Hasad, proses Hasad, sebab – sebab Hasad, akibat Hasad, dan cara berlindung.

BAB III : AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG HASAD DAN PENAFSIRANNYA.

Dalam bab ini terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an tentang Hasad, dan penafsiran ayat.

BAB IV : PENUTUP

Yang berisikan kesimpulan dan saran.



[1] Q.S. Al-Isra’ ayat 9

[2] Depag RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Semarang : Toha Putra,1989), hal 222

[3] Hasan Ayyub, Etika Menuju Kehidupan Yang Hakiki, (Bandung : Trigeda Karya,1994), hal 56

[4] El Saha Ishom, Sketsa al-Qur’an, (PT. Listafariska Putra), jus 1, hal 133

[5] Hasan Ayyub, Ibid…, hal 144

[6] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Gema Risalah Press Bandung, 1992), hal 30

[7] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Gema Risalah Press Bandung, 1992), hal 916

[8] Al-Nawawi, Riyald as-Salihin,(Penerbit Al- Hidayah, Surabaya,tt), hal 600

[9] Musa Suband, Akhlak Keluarga Muhammad SAW, (Jakarta,Lentera Basritama, 1995), hal 116-117

[10] Oemar Bakri, Akhlak Muslim, (Bandung: Angkasa, 1993), hal 90

[11] Langgulung, Teori-Teori Kesehatan Mental, 1992,hal 330

[12] Pius A Partanto, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya, Arkola, 1994), hal 592

[13] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta, Gema Risalah Press Bandung,1992), hal 16

[14] Luis Ma’luf, Al-munjid Fi Al-luqhoh Wa Al-A’lam, (Lebanon: Dar al-Masyreq,t.t.), 905

[15] Abd. Hayy Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), 36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar