Senin, 05 Maret 2012

Tafsir Cinta Dalam Al-Qur'an


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Cinta kepada Allah adalah istilah yang ringan di ucapkan, tetapi implementasi dalam kehidupan sehari-hari bukanlah perkara mudah. Kecintaan selalu membutuhkan pengorbanan, dan pengorbanan orang yang mencintai Allah nilainya tidak dapat disamakan dengan pengorbanan yang dilakukan seorang manusia kepada kekasihnya.
Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang telah diberi rasa cinta, sehingga manusia mampu menjadikan dirinya makhluk yang mampu mengasihi sesamanya. Dengan perasaan cinta itu pula manusia dapat mencintai dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun apa yang terjadi pada zaman sekarang sebagian manusia dengan mengatasnamakan cinta untuk berbuat suatu kedzaliman (kedurjanaan), hal tersebut yang tidak diharapkan oleh ajaran Islam.
Islam adalah agama yang ajarannya didasarkan pada realitas, bukan pada khayalan. Islam tidak menafikan adanya perasaan saling mencintai antar manusia, sebab hal itu adalah fitrah manusia.
Secara naluriah, seseorang akan mencintai pasangan, keluarga, harta, dan tempat tinggalnya. Akan tetapi tidak sepatutnya sesuatu yang bersifat duniawi tersebut lebih dicintai dibanding Allah dan Rasul-Nya. Jika manusia lebih mencintai sesuatu yang bersifat duniawi berarti imannya tidak sempurna, dan ia harus berusaha untuk menyempurnakannya.
Dalam masalah cinta pasti memiliki konsekuensi dari perasaan cinta yang dimiliki. Bila cinta itu suci dan sejati akan mendapat kebahagiaan tersendiri, tetapi bila kadar cinta itu tidak sebesar iman yang dimiliki berarti akan berakibat fatal bagi diri dan cintanya.
Bahwa rasa cinta memang membutuhkan pembuktian dari setiap orang yang mengaku mencintai, karena sebuah pengakuan itu termasuk hal yang mudah, akan tetapi membuktikan pengakuan itulah yang sulit. Terkadang seseorang menganggap mudah sebuah pengakuan bahwa dirinya telah mencintai Allah. Padahal, pengakuannya tersebut itu belum teruji dengan bukti yang menunjukkan ke arah cinta yang sebenarnya.
Cinta hamba kepada Allah merupakan sarana yang bisa mengangkatnya ke derajat yang lebih tinggi, sempurna dan suci. Kedudukan yang tinggi ini menuntut manusia untuk berkorban demi Penciptanya, sebagaimana yang dilakukan oleh setiap orang yang mencinta. Seorang pencinta harus mencintai objek cintanya dengan hati yang tulus. Ia harus sanggup berkorban demi yang dicintai dengan penuh suka cita. Ia juga harus mampu menunjukkan cintanya atas segala ujian yang menimpanya.[1]
Jika telah sampai pada tingkat yang demikian, maka cinta hamba kepada Khaliqnya itu merupakan keimanan yang hakiki. Keimanan yang hakiki bukanlah sekedar pengetahuan dan ketundukan jiwa. Dengan kata lain, iman yang benar adalah imannya sang pencinta kepada Sang Khaliq dengan penuh ketulusan, yang bahkan bisa memabukkan dan melupakan diri sendiri dan akan berpengaruh pada seluruh ucapan, tindakan dan sikapnya.
Seorang mukmin yang hakiki adalah orang yang memahami keindahan dan keagungan Tuhan, mengetahui kasih sayang dan kebesaran-Nya. Begitu pula seorang mukmin yang hakiki meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan adalah satu-satunya pemberi nikmat dan anugerah. Tiada nikmat Allah dan tiada anugerah kecuali dari Sang Khaliq.
Diantara kesempurnaan rasa cinta tersebut adalah, memerangi musuh-musuh kekasih-Nya. Hal ini termasuk dalam kategori berjihad dijalan Allah, yaitu mengajak orang-orang yang manyimpang dari jalan Allah agar kembali kepada-Nya, walaupun harus dengan mengangkat senjata, itupun setelah mengajak mereka dengan argumentasi yang bijaksana. Orang yang mencintai Allah, tentu akan senang kalau sebagian besar makhluk-Nya mengikuti ajaran-Nya.[2]
Hal yang paling mudah dipahami oleh akal pikiran mengapa manusia hanya patut mencintai-Nya adalah kerena adanya anugerah nikmat yang telah diberikan Allah kepada manusia. Kenikmatan yang telah dirasakan oleh manusia selama ini pada hakekatnya adalah milik Allah SWT.
Ketika Allah mencintai hamba-Nya mengandung arti bahwa Allah telah membukakan mata hati manusia supaya dapat mendekatkan diri dan melihat Tuhan dengan mata batinnya. Cinta Allah kepada hamba-Nya berarti dekatnya Tuhan terhadap jiwa seorang hamba yang telah di jauhkan dari maksiat, dan dibersihkan jiwanya dari kotoran-kotoran duniawi.[3]
Pemberian anugerah cinta ini tidak ada yang mampu menghargainya, kecuali mereka yang mengetahui dan memahami siapa hakekat Sang Pemberi. Dialah Dzat yang Maha Pemberi dan Maha Pencipta.
Jika cinta Allah kepada hamba-Nya merupakan sesuatu yang agung dan anugerah yang istimewa, maka nikmat Allah kepada hamba-Nya berupa hidayah untuk mencintai-Nya, sedangkan anugerah taufik untuk makrifat kepada-Nya merupakan anugerah yang agung dan istimewa.
Sesungguhnya cinta yang agung dari Allah kepada hamba-Nya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang memiliki prestasi besar dalam amalnya dan ibadahnya, yang melebihi amal dan ibadah orang-orang biasa.
Daya kreatif cinta tidaklah berhenti pada eksternalisasi dan pemeliharaan alam semesta. Manusia tidak menyadari bahwa cinta dan hasrat mereka telah menjadi bukti nyata cinta Allah. Cinta sang hamba sebenarnya adalah cinta Allah yang tercermin pada diri makhluk. Akibatnya, seperti yang ditulis Ibn ‘Arabi, “Tak ada yang mencintai Sang Khaliq kecuali Sang Khaliq.” Dan “Tak ada yang mencinta dan dicinta kecuali Sang Khaliq sendiri”[4]
Cinta hamba kepada Tuhan seharusnya merupakan cinta yang melebihi dari segalanya. Seperti Rabi’ah al-Adawiyyah, yang karena terlalu cintanya kepada Tuhannya sehingga tidak ada lagi ruang dihatinya untuk mencintai selain Allah.[5]
Begitu banyak peneliti, ilmuwan, sastrawan bahkan para orang bijak masa lalu sampai masa sekarang telah melakukan kajian terhadap masalah “Cinta” sebagai bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Kemudian bagaimana al-Qur’an berkomentar tentang hal ini? Inilah yang menumbuhkan rasa ingin tahu penulis, untuk mengetahui informasi secara mendalam dari al-Qur’an, yang menjadi latar belakang penulisan skripsi “Tafsir Cinta Dalam Al-Qur’an” (Studi Tentang Ayat-ayat Cinta Dalam Al-Qur’an).

B.     Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, agar pembahasan lebih terarah dan mudah difahami penulis mengidentifikasikan masalah dalam skripsi ini pada suatu tema yaitu tentang cinta kepada Allah yang berhubungan dengan wujud dan ciptaan-Nya.
Supaya pembahasan tidak melebar maka penulis membatasi bahasan skripsi ini dengan mengambil sampel ayat dari surat Q.s. Al-Baqarah ayat 165, Q.s. Ali-Imran ayat 31, Q.s. Al-Maidah ayat 54 dan Q.s. At-Taubah ayat 24. Yang ditulis dalam kitab Latha>if al-Isya>rah dan Ru>h al-Ma'a>ni.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas, agar rumusan masalah lebih terarah, maka perlu adanya rumusan masalah yaitu:
  1. Bagaimana realita cinta hamba kepada Allah berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an?
  2. Bagaimana wujud cinta Allah kepada hambanya?

D.    Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
Sehubungan dengan pernyataan dalam perumusan masalah diatas, maka tujuan dari pembahasan ini adalah:
  1. Untuk mengetahui realita cinta hamba kepada Allah berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan cinta kepada Allah.
  2. Untuk mengetahui wujud cinta Allah kepada hambanya
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk memberikan tambahan wawasan keilmuwan yang berkaitan dengan penafsiran atas ayat-ayat cinta.
  2. Sebagai motifasi bagi kaum muslimin pada umumnya dan bagi pembaca pada khususnya agar mengetahui penjelasan tentang ayat-ayat cinta kepada Allah.
  3. Sebagai khazanah keilmuwan yang berkaitan dengan masalah cinta kepada Allah dan sebaliknya cinta Allah kepada hamba-Nya.

E.     Penegasan Judul
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami skripsi ini serta untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang apa yang dikehendaki oleh judul di atas, maka perlu diuraikan kata-kata berikut ini:
Tafsir                                : Ilmu yang menjelaskan makna ayat sesuai dengan dlilalah (petunjuk) yang dzahir (lahir) dalam batas kemampuan manusia. Artinya, Ilmu Tafsir mengkaji bagaimana menjelaskan kehendak Allah SWT. yang terkandung dalam al-Qur’an melalui level dan makna serta menjelaskan hukum-hukum yang dikandungnya, sesuai dengan kemampuan mufassir (ahli tafsir).[6]
Cinta                                 : Berasal dari bahasa sansakerta, yaitu "citta" yang memiliki arti "yang selalu dipikirkan, disenangi dan dikasihi".[7] Adapun cinta yang di maksud penulis adalah cinta makhluk dengan makhluk, cinta makhluk terhadap Allah dan cinta Allah kepada makhluk-Nya. Perasaan cinta dalam bahasa Arab disebut dengan hubb, sedangkan siapa yang dicintai disebut mahbub. Perasaan cinta itu tidak boleh terbagi. Ia adalah milik yang khusus bagi orang yang bercinta. Demikian halnya cinta (mahabbah) kepada Allah. Adalah khusus dari ‘abid kepada ma’budnya, tidak boleh bercampur dengan kecintaan terbatas dan terbagi dengan makhluk, atau benda-benda duniawi lainnya.[8]
Al-Qur'an                         : Kalam Allah SWT, yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai penutup para Nabi dan Rasul dengan perantara malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf-mushaf yang sampai kepada kita secara mutawatir, dipandang sebagai pahala bagi yang membacanya, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri denagn surat an-Nas.[9]
F.     Kajian Pustaka
Pembahasan masalah cinta (mahabbah), telah banyak dikaji oleh tokoh-tokoh Islam dengan berbagai sudut pandang, hal ini menunjukkan bahwa eksistensi cinta manusia sangatlah menarik untuk ditelaah dan dikaji, baik dipandang dari segi penafsiran ayat, filsafat maupun tasawuf. Untuk mengetahui kekhasan skripsi ini, berikut disampaikan beberapa penelitian sebelumnya yang memiliki masalah serupa cinta, diantaranya yaitu
1.      “Cinta Kepada Allah Dalam Kajian Tafsir Tematik”. Lilik Habibah, Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits tahun 2001. Dalam skripsi tersebut memaparkan bahwa cinta seorang hamba kepada Allah disebabkan karena kecenderungan manusia suka pada keindahan, karena Allah adalah yang Maha Indah. Dengan kata lain bahwa skripsi tersebut hanya membahas cinta seorang hamba kepada Sang Khaliq saja, bukan sebaliknya.
2.      “Konsep Cinta Dalam Pemikiran Ibn ‘Arabi”. Muhammad Hanafi, Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat tahun 2003. Dalam skripsi tersebut memaparkan tiga konsep cinta dalam pemikiran Ibnu ‘Arabi yaitu : cinta alami, cinta spiritual dan cinta kudus. Dari sini dapat diketahui bahwa dalam skripsi tersebut hanya menjelaskan konsep cinta Ibnu Arabi dan lebih cenderung pada pendekatan filsafat.
3.      “Konsep Cinta Dalam Pemikiran Ibn Qayyim Al-Jauziyyah”. Ismail Hasan, Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat tahun 2005. Dalam skripsi tersebut membahas tentang konsep cinta Ibn Qayyim Al-Jauziyyah yang menempatkan cinta sebagai dasar bertaqarrub (beribadah) kepada Allah. Dengan demikian dapat diketahui bahwa skripsi tersebut lebih dekat pada telaah filsafat.

4.      “Studi Tentang Konsepsi Al-Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyya”, Iis Rahmawati. Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat tahun 1995. Dalam skripsi tesebut membahas tentang konsep mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah, menurut beliau ajaran cinta ada dua yaitu; pertama cinta karena rindu, ini tercermin pada aksi untuk senantiasa merasakan cinta hanya kepada Sang Khaliq SWT. Kecintaan Rabi’ah al-Adawiyyah kepada Tuhan yang tidak takut pada adzab-Nya, karena ingin mencintai Tuhan semata. Dalam kehidupan sosial, cinta pada tahap ini tercermin dari tahapan tawakkal, dari Ridla, Sabar dan khusus pada Rabi’ah al-Adawiyyah cinta pada tahapan ini membawa kepada kehidupan at-Tabathu (membujang) selama hayatnya.
5.      “Akal Dan Cinta Dalam Pandangan Jalaluddin Rumi”. Anugerah Agung, Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat tahun 1996. Dalam skripsi tersebut menjelaskan hubungan antara cinta dan akal, dimana orang yang bercinta sering tak berakal dan orang yang berakal belum tentu mampu bercinta, juga menjelaskan simbolisme akal dan cinta Jalaluddin Rumi.
6.      “Cinta Dalam Analisa Tasawuf”. Jamilah Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat tahun 1998. Dalam skripsi tersebut menjelaskan pengertian dan makna cinta yang dihubungkan dengan Ittihad, hulul, wahdat al-wujud yang pada garis besarnya bahwa cinta adalah pengarah antara hamba dan Tuhan. Sesuatu yang merupakan esensi manusia, dimana manusia memiliki kesadaran spiritual.
7.      “Konsepsi Mahabbah Menurut Al-Ghazali”. Enif, Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat tahun 2003. Dalam skripsi tersebut menjelaskan, bahwa menurut al-Ghazali, mahabbah adalah tujuan yang terjauh dan termasuk derajat yang tinggi, sedangkan kerinduan, kesenangan dan keridhahan mengikuti kecintaan.
Berdasarkan beberapa skripsi yang telah penulis paparkan di atas, penulis akan menegaskan bahwa skripsi yang akan penulis bahas tidak ada kesamaan yang mendasar dengan beberapa skripsi diatas. Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian tersebut adalah
1.            Pembahasan cinta tidak hanya cinta hamba kepada Allah saja, tetapi sebaliknya cinta Tuhan kepada hamba-Nya.
2.            Telaah tafsir terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan cinta.

G.    Sumber Data
Untuk menulis skripsi ini penyusun menggunakan sumber data yang terbagi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Adapun data tersebut adalah:
1.      Sumber data primer
a.       Al-Qur’an al-Karim
b.      Latha>if al-Isya>rah, karya Imam al-Qusyairi
c.       Ru>h al-Ma’a>ni, karya Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdadi

2.      Sumber data skunder
a.       Tafsir al-Maraghi, karya Ahmad Musthafa al-Maraghi
b.      Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab
c.       Tafsir al-Azhar, Hamka
d.      Rabi'ah al-Adawiyyah, Hubb al-Ilahi

H.    Metode Penelitian
Untuk mengumpulkan bahan-bahan materi yang akan dibahas dalam skripsi ini digunakan metode Library reseach, yaitu suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengutip beberapa bahan materi yang diuraikan dalam buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini.
Dalam mengolah atau menganalisa bahan-bahan materi yang telah terkumpul, digunakan sebagai berikut:
1.      Metode Maudhu>’i: ialah menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai ayat-ayat dan surat yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya, kemudian penulis membahas dan menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut, sehingga menjadi kesatuan yang utuh,[10] namun tidak menutup kemungkinan untuk meggunakan beberapa metode, apabila diperlukan selain metode diatas.
2.      Metode Induktif: yaitu suatu metode yang dimulai dengan mengemukakan dalil yang bersifat khusus dengan kesimpulan yang bersifat umum.[11]
3.      Metode Deduktif: yaitu metode yang dimulai dengan mengemukakan dalil yang bersifat umum, kemudian dilanjutkan dengan kenyataan yang bersifat khusus.[12]

I.      Sistematika Pembahasan
Bab I         : Pendahuluan, Latar Belakang, Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian,  Penegasan Judul, Kajian Pustaka, Sumber Data, Metode Penelitian, Sistematika Pembahasan.
Bab II        : Tafsir Maudhu>’i dan Cinta, Tafsir dan metode Maudhu>’I, Definisi Cinta, Cinta Menurut Para Ahli Tasawuf
Bab III      : Cinta Hamba Kepada Allah Dan Cinta Allah Kepada Hamba-Nya, Ayat-ayat yang berkaitan dengan cinta hamba kepada Allah dalam al-Qur'an., Ayat-ayat yang berkaitan dengan cinta Allah kepada hamba-Nya, Penafsiran ayat-ayat cinta hamba kepada Allah, Penafsiran ayat-ayat cinta Allah kepada hamba-Nya, Analisa Ayat-ayat Cinta Dalam Al-Qur’an
Bab IV      : Penutup, Kesimpulan dan Saran.


[1] Djamaluddin Ahmad Al-Buny, Menelusuri Taman-taman Mahabbah Shufiyah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002), hal. 46
[2] Abd Aziz Musthafa, Mahabbatullah Tangga Menuju Cinta Sang Khaliq, Wacana Ibn Qayyim al-Jauziyyah, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hal.105
[3] Margareth Smith, Rabi’ah Pergaulatan Spiritual Perempuan, (Surabaya: Risalah Gusti, 1999), hal.122
[4] William C. Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi,(Bandung, 2002), Cet I, hal. 123
[5] Noer Iskandar Al-Barsany, Tasawuf Tarekat dan Para Sufi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), Cet. I, hal. 143
[6] Ensiklopedi Islam, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Cet 4 (Jakarta: Ichtiar Baru Van Heve, 1997 jilid 5. hal. 29
[7] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan perkembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 1989), hal.168
[8] Djamaluddin Ahmad Al-Bunny, Menelusuri Taman-taman Mahabbah Shufiyyah, Yogyakarta: Mitra Pustaka 2002), hal. 48
[9] M. Ali as-Shabuni, Al-Tibyan fi Ulum al-Qur'an, Terj, M. Khudori Umar dan Mustofa, H.S, (Bandung: al-Ma'arif, 1996), 18
[10] Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Mizan, (Bandung, 1992), cet. 1, hal. 87
[11] Sutrisno hadi, Metodologi Riset, PT. Psikologi UGM, (Yogyakarta 1983), hal. 42
[12] Ibid, hal. 42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar